PESANTREN DAN PRODUKTIFITAS

Pondok pesantren dengan segala harapan dan predikat yang dilekatkan padanya, sesungguhnya berujung pada tiga fungsi utama, yaitu: pertama, sebagai pusat pengkaderan pemikir-pemikir agama (Center of Excellence). Kedua, sebagai lembaga yang mencetak sumber daya manusia (human Resources). Ketiga, sebagai lembaga yang mempunyai kekuatan melakukan pemberdayaan pada masyarakat (Agen of development. manajemen pesantren (suhartini:2009)

Dalam era persaingan bebas dewasa ini, pembangunan kompetensi dan kapasitas santri adalah suatu keharusan. Untuk dapat bersaing secara kompetitif dalam dunia global, pondok pesantren dituntut mampu melahirkan produk dan alumni yang mempunyai kompetensi dan produktif dalam tiga hal. Pertama: Kompeten dan produktif secara spiritual. Kedua, kompeten dan produktif secara social. Ketiga alumni pesantren harus kompeten dan produktif secara ekonomi ( Harjito, dkk :2008)

Namun dari kurang lebih 14000 pesantren yang ada di Indonesia menjadi sebuah masalah tersendiri, ketika belum adanya protype pesantren yang syumuliyah mencakup seluruh aspek, pesantren yang ada saat ini hasil pengamatan penulis masih menjadi bagian kecil dari kebesaran dan kehebatan dakwah Islam, setiap pesantren memiliki corak dan kekhasan tersendiri, adanya pesantren salafiyah (tradisional) yang mempertahankan warisan budaya sejarah Islam berabad-abad lampau tanpa mengikuti arus perubahan zaman yang berubah dengan cepat, juga ada pesantren modern yang adaptif terhadap perubahan suasana dan kondisi yang terjadi disekitarnya. Ada pula pesantren yang hanya menggeluti satu fan (bidang, contoh: pesantren fiqh, pesantren alat (nahwu shorof), pesantren tahfidz, pesantren alquran dan lain sebagainya yang masih terpisah belum pada satu wilayah dan satu nama pesantren.

Namun ditengah kondisi seperti itu pesantren selama ratusan tahun masih eksis bahkan mengalami kemajuan yang cukup pesat dari sisi fasilitas dan kuantitas ( dalam beberapa hal mengalami penurunan kualitas), kemampuan pondok pesantren dalam beradaptasi terhadap situasi yang terjadi, kearifan yang dimiliki oleh pengasuh pondok, wawasan dan pergaulan yang luas menjadikan pesantren sebagai asset besar bangsa Indonesia yang harus diperhatikan, diberikan pembinaan dan dikembangkan
Belajar dari Negara jepang dan Negara Korea Selatan yang mampu berkembang secara cepat dari sisi fasilitas kehidupan dunia dikarenakan karena jumlah waktu produktif Negara itu lebih banyak dibanding Indonesia. namun dari sisi spiritualitas terjadi disparitas yang sangat jauh, hal ini jelas menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masa depan keturunan mereka dimana saat ini banyak diantara penduduk disana ketika dihadapkan pada sebuah masalah yang berat mereka mengambil jalan bunuh diri.
Bangsa Indonesia saat ini sepertinya tidak mungkin mampu mengejar ketertinggalan dengan Korea Selatan, apabila dilihat dari waktu produktif yang ada baik didunia pendidikan maupun didunia bisnis, berbeda dengan dunia aktifitas pesantren yang dirancang seluruh aktifitas keseharian mereka yang apabila penulis rata-ratakan waktu produktif mereka bisa lebih dari 15 jam melebihi angka produktifitas Negara korea Selatan yang rata-rata waktu produktifnya 14 jam.

Walaupun penulis belum melakukan penelitian secara lebih mendalam terhadap sampel pesantren besar di Indonesia dalam hal produktifitas, namun pengalaman penulis di beberapa pesantren jawa barat, waktu dipesantren itu sangat produktif, jarang ada waktu santai dan berleha-leha. Dengan input yang terbatas dari sisi intelektual dan financial namun mampu menghasilkan produk manusia yang banyak menjadi leader atau pemimpin dimasyarakatnya.

Pesantren Alfalah biru sebagai salah satu pesantren tertua di Indonesia sedang dalam tahap membangun kembali produktifitas yang sangat tinggi baik dalam hal mencetak Ulama pemikir agama, pelanjut estafeta perjuangan (dai), teknokrat yang membuat produk bermanfaat bagi masyarakat, serta pengusaha yang membangun kemandirian bangsa maupun pekerja yang berdedikasi tinggi bagi perusahaan.

Selamat berjuang untuk keselamatan dan kesejahteraan bangsa Indonesia tercinta.
(Alfaqir Ibnu Sya’ban)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>